Pertanian Indonesia Pasti Bisa Maju
Bagaikan ayam mati di lumbung padi.
Itulah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan petani Indonesia
dewasa ini. Pertanian yang katanya adalah masalah hidup dan mati bangsa, tapi
petaninya tidak dimakmurkan oleh bangsanya. Hidup petani tidak sesejahtera
dokter, tidak sesejahtera arsitek, dan tidak sesejahtera manufactured.
Potret petani yang dicitrakan saat ini adalah kumuh dan miskin. Mungkin petani
hanyalah orang biasa yang punya banyak bahan makanan, tidak lebih dari itu.
Padahal petani dan pertanian merupakan unsur penting dalam sebuah tatanan
kehidupan suatu bangsa.
Petani (dan segala yang bergelut di
bidang pertanian) yang seharusnya kayak raya dan sejahtera malah
tersingkir/tenggelam di zaman serba modern ini. Hal ini terjadi karena
Indonesia tidak memanfaatkan potensi pertaniannya yang melimpah, malah
mengeksploitasinya dengan rakus. Dan karena Indonesia tidak menghargai para
petaninya.
Di dalam negeri petani kurang
diperhatikan sedangkan dari luar negeri muncul berbagai ancaman mematikan.
Apakah pertanian Indonesia (tak) bisa maju?
Kebanyakan orang Indonesia memilih
untuk menjadi dokter, arsitek, pilot, TNI dan pekerjaan lainnya yang bergelar
Pegawai Negeri Sipil, dibanding menjadi seorang petani, dengan alasan tidak
terjamin kehidupannya, tidak terjamin masa tuanya, dan susah dapat uangnya.
Bahkan lebih memilih menjadi TKW daripada menjadi petani. Wajar bila orang
berkata seperti itu di Indonesia. Karena bisa dikatakan pertanian di Indonesia
tidak maju, dan tidak sejahtera. Buktinya Indonesia masih mengimpor beras dari
luar negeri (Thailand). Sedangkan beras-beras berkualitas seperti Cianjur
sebagiannya di ekspor ke luar negeri. ‘Anak orang lain diberi beras enak, anak
sendiri diberi beras tak enak.’ Seolah-olah bangsa kita dianak tirikan oleh
mafia-mafia (yang tak bertanggung jawab).
Padahal Indonesia mempunyai banyak
hasil panen beras, dan sebenarnya untuk saat ini Indonesia masih mampu
mencukupi kebutuhan beras dalam negeri tanpa harus mengimpor. Tapi karena
adanya unsur politik oleh mafia-mafia yang masih gentayangan, sebagian hasil
panen beras Indonesia ditimbun/ditahan agar terkesan kekurangan beras sehingga
untuk mengatasinya pemerintah akan mengimpor beras dari negara lain. Ini
politik demi kepentingan seseorang.
Petani dan hasil pertaniannya
dengan proses yang panjang, biaya produksi yang mahal, penuh cucuran air
keringat, dibayar murah oleh para pedagang borongan. Yang selanjutnya pedagang
itu menjual dengan harga mahal dan keuntungannya sampai 3 kali lipat. Lalu oleh
pembeli pertama dijual kembali, dan pembeli kedua menjualnya kembali, sehingga
harga di pasaran mahal, bahkan sangat mahal. Oleh sebab itu petani di beberapa
daerah di Indonesia menjadi semakin miskin dan tidak sejahtera. Namun yang
diuntungkan adalah para pedagang borongan tadi.
Karena harga mahal yang ditawarkan
oleh para pedagang, buah lokal kalah saing dengan buah luar negeri/impor yang
harganya murah dan memiliki penampilan menarik.
Mengapa buah impor bisa murah?
Beberapa waktu lalu, negara-negara maju mengintroduksikan konsep perdagangan
bebas. Tujuannya agar dapat men-dumping kelebihan produksi
pertanian tersebut ke negara berkembang. Dan hal itu memporakporandakan produk
lokal/dalam negeri. Selain itu mereka memberlakukan tarif tinggi produk
pertanian impor untuk melindungi petani mereka.
Indonesia mengklaim sebagai negara
agraris, namun para petaninya tidak sejahtera malah semakin terpuruk. Anak
bangsa generasi sekarang tidak memandang lagi pertanian karena mereka
beranggapan bahwa petani tidak punya prospek masa depan. Memang pada
kenyataannya masih banyak petani di pedesaan, dan mereka dapat bertahan hidup
dalam kondisi seperti ini. Namun menjadi petani bukan pilihan yang mereka pilih
dengan bebas melainkan terpaksa agar dapat bertahan hidup dan meneruskan
eksistensinya. Meskipun mereka tahu bahwa menjadi petani tidak punya prospek
masa depan seperti yang mereka harapkan. Pendapatan mereka tidak menentu, sama
seperti musim yang juga datang tidak menentu. Musim yang tidak menentu
berdampak pada cuaca yang juga tidak tentu dalam skala kecil. Anomaly cuaca
terkadang merugikan petani karena dapat menyebabkan kegagalan panen. Gagal
panen adalah hal yang paling dikhawatirkan oleh para petani.
Nasib petani tidak hanya sebatas
bisa memenuhi kebutuhan hidupnya atau tidak, tapi mereka harus berjuang melawan
pemilik modal yang sama-sama memperebutkan lahan pertanian. Ada juga petani
yang memiliki lahan sendiri, tapi karena biaya infrastruktur yang semakin
tinggi membuat petani kehilangan semangat untuk mengggeluti bidangnya itu. Dan
tidak sedikit petani yang menjual lahannya kepada warga setempat untuk dijadikan
pemukiman. Hal tersebut menyebabkan lahan pertanian berkurang.
Mungkin Indonesia lebih sering
memanen bencana dan memanen mitigasi dibanding memanen Sumber Daya Alam. Karena
itulah Indonesia tidak bisa fokus untuk menangani sektor pertanian. Namun ini
bukan alasan untuk tidak bisa memajukan pertanian negeri ini.
Petani dan pertanian
adalah sisi penting kehidupan di dunia. Sudah selayaknya kita memberikan ruang
tumbuh dan berkembang pada sektor ini. Jangan sampai produk lokal kalah oleh
produk impor. Kita harus menjadi tuan di negeri sendiri. Jangan sampai produk
impor menguasai pasar negeri ini. Indonesia harus bisa ke luar dari food
trap (jebakan pangan).
Indonesia dengan modal tanah yang subur dan luas harusnya bisa mencontoh negara maju seperti Selandia baru, Jerman dan negara berkembang seperti Thailand. Untuk membangun atau memajukan pertanian harus ada berkepihakan (kerja sama yang sinergis seluruh stake-holder) dari seluruh komponen di seluruh Indonesia. Pemerintah harus punya kebijakan untuk tidak tunduk pada liberalisme pertanian. Pemerintah juga harus punya kebijakan yang berpihak pada keseluruhan rantai pertanian dari on-farm hingga off-farm. Dengan begitu para petani berpeluang untuk memperoleh pendapatan yang setara dengan sektor/bidang lainnya. Jadi, tidak ada alasan pertanian kita untuk tidak maju. PERTANIAN INDONESIA PASTI BISA MAJU.
Indonesia dengan modal tanah yang subur dan luas harusnya bisa mencontoh negara maju seperti Selandia baru, Jerman dan negara berkembang seperti Thailand. Untuk membangun atau memajukan pertanian harus ada berkepihakan (kerja sama yang sinergis seluruh stake-holder) dari seluruh komponen di seluruh Indonesia. Pemerintah harus punya kebijakan untuk tidak tunduk pada liberalisme pertanian. Pemerintah juga harus punya kebijakan yang berpihak pada keseluruhan rantai pertanian dari on-farm hingga off-farm. Dengan begitu para petani berpeluang untuk memperoleh pendapatan yang setara dengan sektor/bidang lainnya. Jadi, tidak ada alasan pertanian kita untuk tidak maju. PERTANIAN INDONESIA PASTI BISA MAJU.
nice post, febri. i love ipb :D #eaa
BalasHapusthanks :D
HapusIkutan lomba ya? Good luck! Bagus kok postingannya, ngena sama keadaan sekarang.
BalasHapusSemangat! Maju terus pertanian Indonesia!
BalasHapusWaw, petani dan pertanian memang luar biasa. Hidup petani, hidup Indonesia! Ayo maju terus pertanian Indonesia, tunjukan pada dunia bahwa kita memang negara agraris dan bisa mensejahterakan rakyatnya dengan ini.
BalasHapusYap, benar. Pertanian kita harus bisa keluar dari jebakan pangan, kita harus maju. Semangat.
BalasHapusMakanya pemerintah harus memperhatikan petani, biarpun caranya 'melihat' dari negara lain, itu tidak apa-apa. Yang penting demi kebaikan, dan tidak ada pihak yang dirugikan.
BalasHapusOke sip, bilang dong ke pemerintah! Haha
Hapuspertanian indonesia kurang terlalu di perhatikan karena Mungkin Indonesia lebih sering memanen bencana dan memanen mitigasi dibanding memanen Sumber Daya Alam. petani, mahasiswa dan pemerintah harus punya kolaborasi yang baik sehngga pertanian indonesia bisa lebih baik. nice post.
BalasHapuskerennn feb,,
BalasHapuswah nanti kyaknya febrii bisa jadi mentri lingkungan hidup nihh, hbat hbt
Ya! Pertanian Indonesia pasti maju, jangan korupsi aja yg maju. Hehe
BalasHapusCintai produk lokal/dalam negeri :D semangat pertanian! Pertanian Indonesia pasti maju.
BalasHapusLindungi petani dan pertanian Indonesia!
BalasHapusStuju sama Febri Purigil! Kereeen deh artikelnya.
BalasHapusBawang putih mahal ya?
BalasHapusoh gitu yah. Bagus deh. Cemungut buat Petani !!!
BalasHapusAyo bangkit !!!
Jangan tidur mulu, sudah saatnya kita majukan negeri kita di bidang pertanian coz hidup kita tak pernah lepas dari produk pertaniaan. kalau ga ada para petani, kita nanti makan apa?
eh... Follow me @Hudam92 yah, dijamin seru tweetnya... heheheh
Kalahkah promosi maneh mah ah!
Hapusbackgroundnya bagus :D
BalasHapusKalau pertanian mau maju Indonesia harus menekan angka kelahiran.
BalasHapusKasian kalo yg mau ngelahirin tp ditahan-tahan.
BalasHapus