Selasa, 19 Februari 2013

Penjelasan Tentang "Pertanian Indonesia Pasti Bisa Maju"


Pertanian Indonesia Pasti Bisa Maju
          Bagaikan ayam mati di lumbung padi. Itulah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan petani Indonesia dewasa ini. Pertanian yang katanya adalah masalah hidup dan mati bangsa, tapi petaninya tidak dimakmurkan oleh bangsanya. Hidup petani tidak sesejahtera dokter, tidak sesejahtera arsitek, dan tidak sesejahtera manufactured. Potret petani yang dicitrakan saat ini adalah kumuh dan miskin. Mungkin petani hanyalah orang biasa yang punya banyak bahan makanan, tidak lebih dari itu. Padahal petani dan pertanian merupakan unsur penting dalam sebuah tatanan kehidupan suatu bangsa.
Petani (dan segala yang bergelut di bidang pertanian) yang seharusnya kayak raya dan sejahtera malah tersingkir/tenggelam di zaman serba modern ini. Hal ini terjadi karena Indonesia tidak memanfaatkan potensi pertaniannya yang melimpah, malah mengeksploitasinya dengan rakus. Dan karena Indonesia tidak menghargai para petaninya.
          Di dalam negeri petani kurang diperhatikan sedangkan dari luar negeri muncul berbagai ancaman mematikan. Apakah pertanian Indonesia (tak) bisa maju?
Kebanyakan orang Indonesia memilih untuk menjadi dokter, arsitek, pilot, TNI dan pekerjaan lainnya yang bergelar Pegawai Negeri Sipil, dibanding menjadi seorang petani, dengan alasan tidak terjamin kehidupannya, tidak terjamin masa tuanya, dan susah dapat uangnya. Bahkan lebih memilih menjadi TKW daripada menjadi petani. Wajar bila orang berkata seperti itu di Indonesia. Karena bisa dikatakan pertanian di Indonesia tidak maju, dan tidak sejahtera. Buktinya Indonesia masih mengimpor beras dari luar negeri (Thailand). Sedangkan beras-beras berkualitas seperti Cianjur sebagiannya di ekspor ke luar negeri. ‘Anak orang lain diberi beras enak, anak sendiri diberi beras tak enak.’ Seolah-olah bangsa kita dianak tirikan oleh mafia-mafia (yang tak bertanggung jawab).
Padahal Indonesia mempunyai banyak hasil panen beras, dan sebenarnya untuk saat ini Indonesia masih mampu mencukupi kebutuhan beras dalam negeri tanpa harus mengimpor. Tapi karena adanya unsur politik oleh mafia-mafia yang masih gentayangan, sebagian hasil panen beras Indonesia ditimbun/ditahan agar terkesan kekurangan beras sehingga untuk mengatasinya pemerintah akan mengimpor beras dari negara lain. Ini politik demi kepentingan seseorang.
Petani dan hasil pertaniannya dengan proses yang panjang, biaya produksi yang mahal, penuh cucuran air keringat, dibayar murah oleh para pedagang borongan. Yang selanjutnya pedagang itu menjual dengan harga mahal dan keuntungannya sampai 3 kali lipat. Lalu oleh pembeli pertama dijual kembali, dan pembeli kedua menjualnya kembali, sehingga harga di pasaran mahal, bahkan sangat mahal. Oleh sebab itu petani di beberapa daerah di Indonesia menjadi semakin miskin dan tidak sejahtera. Namun yang diuntungkan adalah para pedagang borongan tadi.
          Karena harga mahal yang ditawarkan oleh para pedagang, buah lokal kalah saing dengan buah luar negeri/impor yang harganya murah dan memiliki penampilan menarik.
Mengapa buah impor bisa murah? Beberapa waktu lalu, negara-negara maju mengintroduksikan konsep perdagangan bebas. Tujuannya agar dapat men-dumping kelebihan produksi pertanian tersebut ke negara berkembang. Dan hal itu memporakporandakan produk lokal/dalam negeri. Selain itu mereka memberlakukan tarif tinggi produk pertanian impor untuk melindungi petani mereka.
Indonesia mengklaim sebagai negara agraris, namun para petaninya tidak sejahtera malah semakin terpuruk. Anak bangsa generasi sekarang tidak memandang lagi pertanian karena mereka beranggapan bahwa petani tidak punya prospek masa depan. Memang pada kenyataannya masih banyak petani di pedesaan, dan mereka dapat bertahan hidup dalam kondisi seperti ini. Namun menjadi petani bukan pilihan yang mereka pilih dengan bebas melainkan terpaksa agar dapat bertahan hidup dan meneruskan eksistensinya. Meskipun mereka tahu bahwa menjadi petani tidak punya prospek masa depan seperti yang mereka harapkan. Pendapatan mereka tidak menentu, sama seperti musim yang juga datang tidak menentu. Musim yang tidak menentu berdampak pada cuaca yang juga tidak tentu dalam skala kecil. Anomaly cuaca terkadang merugikan petani karena dapat menyebabkan kegagalan panen. Gagal panen adalah hal yang paling dikhawatirkan oleh para petani.
          Nasib petani tidak hanya sebatas bisa memenuhi kebutuhan hidupnya atau tidak, tapi mereka harus berjuang melawan pemilik modal yang sama-sama memperebutkan lahan pertanian. Ada juga petani yang memiliki lahan sendiri, tapi karena biaya infrastruktur yang semakin tinggi membuat petani kehilangan semangat untuk mengggeluti bidangnya itu. Dan tidak sedikit petani yang menjual lahannya kepada warga setempat untuk dijadikan pemukiman. Hal tersebut menyebabkan lahan pertanian berkurang.
Mungkin Indonesia lebih sering memanen bencana dan memanen mitigasi dibanding memanen Sumber Daya Alam. Karena itulah Indonesia tidak bisa fokus untuk menangani sektor pertanian. Namun ini bukan alasan untuk tidak bisa memajukan pertanian negeri ini.
 
Petani dan  pertanian adalah sisi penting kehidupan di dunia. Sudah selayaknya kita memberikan ruang tumbuh dan berkembang pada sektor ini. Jangan sampai produk lokal kalah oleh produk impor. Kita harus menjadi tuan di negeri sendiri. Jangan sampai produk impor menguasai pasar negeri ini. Indonesia harus bisa ke luar dari food trap (jebakan pangan). 
          Indonesia dengan modal tanah yang subur dan luas harusnya bisa mencontoh negara maju seperti Selandia baru, Jerman dan negara berkembang seperti Thailand. Untuk membangun atau memajukan pertanian harus ada berkepihakan (kerja sama yang sinergis seluruh stake-holder) dari seluruh komponen di seluruh Indonesia. Pemerintah harus punya kebijakan untuk tidak tunduk pada liberalisme pertanian. Pemerintah juga harus punya kebijakan yang berpihak pada keseluruhan rantai pertanian dari on-farm hingga off-farm. Dengan begitu para petani berpeluang untuk memperoleh pendapatan yang setara dengan sektor/bidang lainnya. Jadi, tidak ada alasan pertanian kita untuk tidak maju. PERTANIAN INDONESIA PASTI BISA MAJU.

20 komentar:

  1. nice post, febri. i love ipb :D #eaa

    BalasHapus
  2. Ikutan lomba ya? Good luck! Bagus kok postingannya, ngena sama keadaan sekarang.

    BalasHapus
  3. Semangat! Maju terus pertanian Indonesia!

    BalasHapus
  4. Waw, petani dan pertanian memang luar biasa. Hidup petani, hidup Indonesia! Ayo maju terus pertanian Indonesia, tunjukan pada dunia bahwa kita memang negara agraris dan bisa mensejahterakan rakyatnya dengan ini.

    BalasHapus
  5. Yap, benar. Pertanian kita harus bisa keluar dari jebakan pangan, kita harus maju. Semangat.

    BalasHapus
  6. Makanya pemerintah harus memperhatikan petani, biarpun caranya 'melihat' dari negara lain, itu tidak apa-apa. Yang penting demi kebaikan, dan tidak ada pihak yang dirugikan.

    BalasHapus
  7. pertanian indonesia kurang terlalu di perhatikan karena Mungkin Indonesia lebih sering memanen bencana dan memanen mitigasi dibanding memanen Sumber Daya Alam. petani, mahasiswa dan pemerintah harus punya kolaborasi yang baik sehngga pertanian indonesia bisa lebih baik. nice post.

    BalasHapus
  8. kerennn feb,,
    wah nanti kyaknya febrii bisa jadi mentri lingkungan hidup nihh, hbat hbt

    BalasHapus
  9. Ya! Pertanian Indonesia pasti maju, jangan korupsi aja yg maju. Hehe

    BalasHapus
  10. Cintai produk lokal/dalam negeri :D semangat pertanian! Pertanian Indonesia pasti maju.

    BalasHapus
  11. Lindungi petani dan pertanian Indonesia!

    BalasHapus
  12. Stuju sama Febri Purigil! Kereeen deh artikelnya.

    BalasHapus
  13. oh gitu yah. Bagus deh. Cemungut buat Petani !!!
    Ayo bangkit !!!
    Jangan tidur mulu, sudah saatnya kita majukan negeri kita di bidang pertanian coz hidup kita tak pernah lepas dari produk pertaniaan. kalau ga ada para petani, kita nanti makan apa?
    eh... Follow me @Hudam92 yah, dijamin seru tweetnya... heheheh

    BalasHapus
  14. Kalau pertanian mau maju Indonesia harus menekan angka kelahiran.

    BalasHapus
  15. Kasian kalo yg mau ngelahirin tp ditahan-tahan.

    BalasHapus